Jika ditanya, “kamu ngapain buat startup?”, kamu jawab apa?

Mau bawa perubahan? Mau jadi sosok yang berpengaruh di lingkungan atau negara? Mau cepet kaya? Atau karena temenmu banyak yang buat startup dan kelihatannya keren?

Oke, jawabanmu idealis, “ingin membawa perubahan”, lalu muncul pertanyaan baru. “Perubahan apa?”

Merintis sebuah startup itu nggak semata-mata cuma untuk unjuk diri bahwa kamu itu keren, punya pemikiran modern, atau mengikuti perkembangan zaman. Merintis sebuah startup itu berbicara tentang peranmu terhadap kehidupan di lingkungan sekelilingmu dan perubahannya 

kelak. Kalau masih berpikir membangun startup itu semacam arena pansos, well, good luck aja.

Nggak cuma ide, gagasan, atau sekedar skill untuk membangun startup yang sukses di pasaran nanti, kita juga butuh yang namanya visi. Visi itu seperti “kenapa”-nya kita membuat startup. Kenapa, sih, Gojek membuat aplikasi ojek online? Kenapa, sih, Google membuat layanan mesin pencari? Kenapa, sih, saya ingin membuat startup ini? Kalau kamu bisa menjawabnya, itu lah yang namanya visi.

Visi bukan cuma buat startup-mu keliatan keren di permukaan; juga mampu membuat kamu tahu, di masa depan nanti, startup-mu akan melangkah di arah yang tepat sesuai dengan apa yang sudah kamu rencanakan. Kalau kata petinggi-petinggi startup, visi itu bisa memberikan “ramalan” tentang bagaimana perkembangan startup kita beberapa tahun ke depan.

Visi? Penting?

Orang-orang mungkin pikir buat startup itu gampang dan cepat; tinggal buat produk, lalu lempar ke pasar. Laku, jadi kaya, sudah.

Eits, tunggu sebentar.

Itu bisa saja terjadi. Tapi nggak segampang itu. kamu perlu engage dengan konsumen kamu, perlu pinter-pinter pitching sama investor, dan pastinya bisa buat startup kamu berumur panjang dengan produk-produk yang diminati terus menerus.

Gimana caranya biar bisa attract perhatian investor dan konsumenmu?

Visi jawabannya!

Visi, selain sebagai penunjuk arah, juga menjadi value dari startup-mu kelak. Visi akan membuat orang lain tahu startup-mu berkiprah ke mana. Kamu juga bisa tetap stay on track dalam pengembangan produk atau program kamu agar selaras dengan value yang kamu angkat dari startup kamu tentunya.  Selain itu, dengan visi yang solid, investor dan konsumen akan selalu excited dengan startup kamu.

(Ingat, mereka tidak hanya membeli produk kamu, tapi juga nilai yang dimiliki produk itu untuk kehidupan mereka.)

Mari kita lihat Disney.

https://disneyworld.disney.go.com/es-mx/
Sumber: https://disneyworld.disney.go.com/es-mx/


Siapa yang nggak kenal perusahaan raksasa yang dirajai oleh seekor tikus hitam bercelana merah yang murah senyum yang dulu pernah menghiasi televisi dan rak buku kita? Well, sekarang masih, sih. Dulu kita kenal Disney sebagai studio animasi yang membuat film animasi family friendly. Apa visi dari Disney?

To be one of the world’s leading producers and providers of entertainment and information.

Dan kemana visi itu membawa Disney sekarang setelah berkiprah sejak 1923? Disney menjadi perusahaan raksasa yang menguasai pasar industri entertainment dunia yang tidak hanya menciptakan animasi, film, merchandise, franchise, tapi juga wahana bermain terbesar yang sudah tersebar di seluruh dunia, DisneyLand. Semua orang dari segala kalangan menanti produk mereka.

Tanpa visi yang jelas dan solid, mungkin Disney sekarang sudah buat produk yang nggak jelas juga.

Jika dengan sebuah visi yang singkat seperti itu mampu membawa kamu dari langkah kaki kecil menuju langkah kaki Bigfoot yang katanya cuma mitos doang, you better make your outstanding vision right now!

Buat visi itu susah

Iya.

Dan nggak juga.

Keduanya.

Membuat visi memang nggak gampang, tapi nggak sulit kalau kamu cukup jeli untuk menyadari apa aja yang ada di sekitar kamu. Sadar nggak, sih, setiap ide-ide yang keluar dari kita nggak pernah merupakan ide yang 100% original? Semuanya muncul berdasarkan apa yang sudah ada. Begitu pula sebuah visi ataupun startup. Kita semata-mata melanjutkan apa yang sudah ada di sekeliling kita. Go-Jek misalnya.

Visi Go-Jek untuk memperbaiki struktur transportasi di Indonesia dan membantu mensejahterakan kehidupan ojek membuat kita mengenal bagaimana Go-Jek sekarang menjadi startup yang sukses dan dekat dengan konsumennya.

Sumber: gojek.com


Apakah founder Go-Jek tiba-tiba mendapat ilham untuk menciptakan startup ini? Nggak juga. Go-Jek lahir dan sangat diterima masyarakat karena memang dari dulunya masyarakat Indonesia butuh banget sama transportasi umum yang lebih efisien waktu, murah, dan gampang dijangkau (males, kan, ngetem-ngetem mulu).

Tapi kenapa, sih, ide-ide brilian ini nggak muncul dari dulu banget? Kenapa baru zaman sekarang?

Lagi, semuanya adalah kelanjutan dari apa yang sudah ada. Internet dan smartphone belum ada di genggaman tangan masyarakat Indonesia, jadi nggak mungkin dulu ada ojek online, lah.

Jadi lihat apa fenomena-fenomena yang terjadi di sekelilingmu. Melalui visi yang kamu buat, ciptakan sebuah “ramalan” bagaimana masalah itu bisa dipecahkan dengan menggunakan teknologi yang sudah berkembang sekarang (atau nanti), karena…

Gitu.

Visi yang powerful

Membuat sebuah visi nggak kayak mengarang bebas waktu ujian sekolah. Membuat sebuah visi juga berarti mengangkat sebuah nilai penting dari startup kamu. Let’s say, itu adalah jiwa kamu dalam startup.

So, visi haruslah bisa memberikan impact kepada diri sendiri dan dunia; inspiratif, memotivasi, dan juga memberikan aspirasi tidak hanya kepada startup itu sendiri, tapi kepada siapapun nantinya. Percaya atau tidak, startup dengan visi yang tepat dan impactful, akan 4x lebih sukses dari visi yang hanya berjalan sesuka hati, lho.

Nah, sekarang siapkan alat tulis di depan kamu. Sebelum menulis visi yang kamu mau, kamu harus kembali lagi bertanya pada diri sendiri. Kalau kata Jim Stengel, kamu harus tahu kenapa kamu mau melakukan itu.

Selanjutnya adalah, apa sih yang mau kamu raih dari itu? Ingat, kan, kalau visi akan membawa kamu ke arah goal yang kamu tuju dari startup kamu. Tapi kamu harus, tahu apa goal yang kamu mau dari startup kamu.

Membuat perubahan?

Membantu lingkungan menjadi lebih baik?

Apa saja.

Visi tanpa goal, bukanlah visi yang baik. (Ragu? Lihat lagi Disney di atas.)

Membuat sebuah visi untuk startup-mu bisa pendek seperti IKEA, “To create a better every day life for the many people.

Atau panjang seperti APPLE, “To produce high-quality, low cost, easy to use products that incorporate high technology for the individual.

Atau malah yang unik seperti NIKE pada tahun 1960-an, “Crush Adidas.

Anything’s fine as long as it’s a goal, right?

Setelah menemukan apa yang kamu ingin raih melalui visi startup kamu (kenapa), mulailah mencari cari cara untuk meraih visi tersebut dengan misi (bagaimana).

Visi juga harus adaptable

Whoa, startup kamu nggak akan mati begitu saja walaupun visi kamu sudah tercapai, karena visi sebaiknya juga mampu beradaptasi terus menerus. Saat satu visi startup kamu berhasil diraih, ayo buat visi baru agar startup dan produk yang kamu kembangkan selalu bisa relevan dengan value dan perkembangan tren di pasar kamu.

Jadi, startup itu nggak mesti harus soal bisa cepet kaya, biar keren, atau kekinian. Startup harus punya goal yang mantap untuk kasih perubahan di dunia dengan visi yang kreatif, inovatif, dan juga inspiratif tentunya. Make a difference. Make an impact.