Oleh Adhitya Putra

Sumber: https://www.pexels.com/photo/batch-books-document-education-357514/

Impian setiap bisnis startup sudah pasti ingin menciptakan perubahan besar dari produk yang diciptakan. Sudah pasti itu. Berbekal ide yang brilian, nggak heran kalo banyak startup berlomba-lomba untuk ciptain produk yang the best, paling ciamik, dan paling beda di antara produk lain.

Tapi ngebangun sebuah produk itu ga sebatas cuma butuh ide yang paling beda dan mutakhir aja. Ada yang namanya validasi ide, dan itu bukan perkara gampang. Biasanya, saat ngebangun produk, validasi ide itu bisa jadi masalah yang besar juga.

Validasi itu apa, sih?

Validasi itu kegiatan untuk ngecek atau ngebuktiin kalau idemu itu tepat. Jadi idemu nggak cuma sekedar ide aja. Nggak cuma ide yang kamu anggap keren atau berguna sendirian.

Nah, sebelum tau idemu itu tepat atau nggak, ada yang namanya validasi masalah terlebih dahulu. Masalah itu jadi juru kunci dari ide, solusi, dan alasan kenapa startup dan produkmu harus ada. Kalau punya produk keren tapi nggak menyelesaikan masalah ya, what’s the point?

Banyak startup melewatkan step validasi masalah mereka. Mau sebagus apapun fitur yang ada di apps atau produkmu, nggak akan ada gunanya kalau memecahkan masalah yang nggak penting bagi orang-orang. Ujung-ujungnya ya gagal.

Validasi masalah itu jadi salah satu dari hal dasar yang harus kamu lakukan kalau mau bangun startup lebih besar. Di awal mungkin kamu sudah membuat hipotesis-hipotesis dari masalah yang sudah kamu pikirin. Di tahap ini, kamu harus caritahu untuk buktiin hipotesis masalahmu tepat untuk diangkat atau ganti.

Ingat Bambang di tulisan sebelumnya? Bambang gagal karena dia tahu masalah apa yang ingin dia pecahkan, tapi nggak tahu apakah masalah tersebut yang TEPAT untuk dia pecahkan. 

Memvalidasi masalahmu itu hal yang essential untuk dikerjain sebelum kamu mulai ngerjain apapun di startup-mu. Pastikan masalahnya adalah masalah yang tepat yang ingin dan bisa kamu pecahkan.

Sumber: https://www.pexels.com/photo/two-women-in-white-hijab-veils-1078741/

Masalah Yang Tepat

Ada banyak banget masalah yang bisa dipecahin di dunia ini, dan kamu bisa pilih salah satunya. Tapi pertanyaannya adalah, apa mereka masalah yang tepat? Masalah yang tepat itu apa? Apa masalah yang kamu alami sendiri itu adalah masalah yang tepat untuk dipecahin?

Gagalnya bisnis startup banyak terjadi karena nggak bisa nentuin masalah apa yang tepat untuk dipecahin. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk memvalidasi masalah agar kita tahu masalah yang kita angkat adalah masalah yang tepat. Contohnya adalah:

  1. Masalah yang dirasakan banyak orang

Ada banyak banget masalah di dunia ini. Yang kamu alami sendiri, yang tetanggamu alami, yang temenmu alami, atau yang negara ini alami. Biasanya kita pasti melihat diri kita sendiri terlebih dahulu, tapi kalau kita doang yang mengalami kan rasanya kurang, ya? Jadi pastikan dulu kalau masalahnya berdampak dan dialami oleh banyak orang dulu.

  1. Masalah yang bikin hidup orang-orang jadi ribet

Kamu udah punya masalah untuk kamu cariin solusi? Oke, cool. Tapi masalahnya itu bikin hidup orang jadi susah, nggak? Susah aja atau super susah? Nah, masalah yang pas banget untuk dipecahin itu adalah masalah yang bikin hidup jadi serba sulit. Nggak mesti harus masalah serius, hal sepele yg nyebelin pun bisa cocok banget untuk kita cariin solusi.

Contohnya, orang-orang males untuk berangkat jauh-jauh untuk cari makan. Sepele? Iya, mungkin. Ribet? Banget, terutama untuk mereka yang sibuk kerja dan mengutamakan setiap detik waktunya. Masalahnya jadi tepat.

  1. Masalah yang orang rela mau bayar supaya masalahnya teratasi

Nah ini mungkin kedengerannya lucu. Tapi serius, lho. Kalau orang rela mau bayar agar masalah mereka kelar, ini jadi masalah yang serius bagi mereka. Tapi tergantung business model yang kamu pakai.

  1. Masalah yang belum dipecahkan oleh siapapun dengan benar

Selain masalah sepele, banyak juga masalah-masalah yang bikin startup apapun kelimpungan untuk menyelesaikan. Entah karena solusinya rumit, cara penyelesaiannya yang bikin pusing, atau karena hal-hal yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masih kurang. Kalau kamu suka tantangan, kamu bisa lanjutin atau salip startup lain untuk selesaiin masalah itu.

Ayo Validasi

Tunggu sebentar!

Kalau kamu mikir caranya adalah samperin temen, keluarga, tetangga, atau keluarga pacar untuk diwawancara soal masalah yang kamu angkat, pikirin dulu baik-baik, “memangnya mereka orang yang tepat untuk dimintain data validasi masalahnya?”

Cek dulu market dari masalah yang kamu angkat. Kalau kamu angkat masalah soal pertanian atau agrikultur, observasi ke para petani atau pasar tradisional. Masalahmu di soal perikanan? Kunjungi para nelayan.

Pergi ke tempat calon user-mu berada. Perhatiin apa yang mereka lakukan dan aktivitasnya. Cari tahu masalah mereka dan apa yang bisa kamu perbuat untuk memudahkan mereka.

Terjun ke lapangan itu cara yang efektif untuk bisa tahu dan validasi masalahmu lebih jauh. Selain itu, pakai platform lain untuk gathering data pun juga ga kalah efektifnya. Selain di dunia nyata, calon user-mu juga ada yang aktif di dunia maya dan mungkin lebih mudah diakses. Kamu bisa pake Google form untuk survei, grup Facebook, forum diskusi online, atau yang lainnya. Video call atau telpon biasa pun juga oke.

Sumber: https://www.pexels.com/photo/apps-business-cellphone-cellular-telephone-533446/

Tanyakan apa yang mereka lakukan dan masalah apa yang mereka alami dan gimana itu bisa menyulitkan mereka. Observe, listen, and learn. Tapi harus digarisbawahi, saat proses validasi sebaiknya jangan menanyakan apa yang mereka mau dan atau menceritakan tentang solusi atau ide yang kamu punya, atau jangan paksakan idemu untuk mereka. Biarkan mereka bercerita tentang kehidupan dan masalah mereka untuk kamu telaah lebih lanjut nantinya.

Setelah semua proses validasi, pengumpulan data, dan interview dilakukan, jangan kaget kalau ternyata masalah yang kamu sudah rancang sedemikian rupa dari awal jadi banyak yang berubah setelah terjun ke lapangan. Di sini kamu sudah paham motivasi dan kebutuhan calon user-mu untuk masalah yang mereka hadapi. Banyak insight baru yang akhirnya kamu dapatkan.

Benefit

Jadi, apa keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan validasi masalah sebelum malah ngerjain solusi atau produksimu?

Sumber: https://www.pexels.com/photo/man-in-grey-dress-shirt-using-brown-cardboard-vr-glasses-936575/

Ngobrol dan menelaah hasil survei akhirnya memberikanmu insight baru tentang target pasar dan calon user. Selain itu, validasi masalah juga akan bantu kamu banyak untuk tahu produk atau solusi apa yang paling pas untuk startup-mu ciptakan, karena sekarang kamu udah ngerti lebih jauh apa yang pasarmu hadapi dan mau.

Selain itu juga, solusi dan produk yang kamu buat untuk mereka bakalan jauh lebih familiar untuk mereka pakai nantinya karena fitur-fitur dan design-nya adalah berdasarkan dari mereka sendiri. Jadi kamu nggak perlu lagi buat semacam kursus cara penggunaannya (kalau itu apps) ke pengguna nanti. Kamu jadi lebih efektif untuk ciptain solusimu dan memakan waktunya pun lebih efisien. Pastinya, pengeluaran jadi lebih bisa ditekan dari hal-hal yang nggak penting.

Kamu tahu apa yang harus kamu simpan, upgrade, atau buang. Karena pada akhirnya, solusi yang kamu buat semua berdasarkan dengan apa yang memang pasarmu cari.