Adhitya Putra

Sumber: shorturl.at/jlKQ7

Biarkan saya bercerita tentang indahnya dunia startup.

Bekerja di startup memberikan banyak keuntungan untuk diri sendiri. Mulai dari bisa mengerjakan sesuatu yang jadi passion kita secara profesional; kita bisa mengatur waktu kita sendiri dalam bekerja; menjadi independen; dan tentu saja finansial kita lebih bisa kita kontrol.

Nggak cuma itu aja. Kerja di startup amat sangat fleksibel karena bisa dikerjakan di mana saja asal fasilitas penunjangnya memadai; seperti coworking space, atau asal yang ada internetnya, deh. Jangkauan pasar dari industri startup juga sangat luas ketimbang perusahaan biasa. 

Makanya nggak heran kalau banyak orang ramai terjun ke dunia startup untuk mencoba peruntungan ini di jaman sekarang; baik langsung berhenti dari pekerjaan mereka dan full-time bangun startup. Atau malah sembari kerja daytime job secara bersamaan.

But, is it a good idea untuk membangun startup secara part-time sekaligus juga bekerja di perusahaan lain? Nah, dari sinilah cerita tentang sisi lain dari membangun sebuah startup dimulai.

—-

Sumber: https://www.pexels.com/photo/four-men-sitting-in-front-of-table-near-glass-window-1578604/

Banyak mungkin kawan-kawan di sekitar kita yang mengajak kita untuk “udah berhenti aja kerja, ikut gue bikin startup!”, atau mungkin kamu sendiri pernah denger dari cerita orang lain. Bekerja di startup nggak langsung bisa dapat income yang diidam-idamkan begitu aja. Ada fase yang amat sangat lama; bisa di bawah rata-rata, atau malah nggak sama sekali.

Sudah siap hidup nggak berpenghasilan dalam waktu lama? Apa uang kamu cukup untuk biayain startup-mu tapi juga biar perutmu nggak kosong-kosong amat?

Jika jawaban kamu untuk salah satu dari dua pertanyaan di atas adalah “nggak,” jangan tinggalkan full-time job kamu. Bakalan sangat beresiko untuk diri sendiri.

Tapi apakah kamu cukup berani untuk bangun startup-mu secara part-time?

Ngerjain startup secara part-time memang pilihan yang beresiko banget. Prosesnya yang super panjang bakalan melelahkan. Untuk bikin pekerjaan startup-mu maksimal, kamu memang diharapkan untuk habisin 24/7 hidupmu sepenuhnya untuk bangun bisnismu.

Bayangkan, proses bekerja di startup nggak cuma proses yang berjalan sekali. Dalam ngembangin satu produk aja harus melampaui banyak banget proses yang berulang-ulang untuk dapetin product market fit. Terlebih lagi jika kamu pakai metode Lean Startup yang nggak akan stop sampai produk yang dibuat tepat dengan kebutuhan konsumen. It will take years untuk itu.

Menjadi seorang founder/co-founders full-time ataupun part-time juga akan memberikan pengaruh kalau seandainya startup-mu juga sudah memiliki kerjasama dengan investor. Biasanya kebanyakan investor akan punya impression yang kurang mengenakkan dengan founder/co-founders yang membangun startup-nya secara part-time.

Gimana nggak, menjadi seorang part-time founder bisa buat target startup-mu berjalan pelan, kurang stabil, dan kurang maksimal. It’s not a good thing untuk para investor karena, hey, investor juga punya target, kan. Jadi menjaga ekspektasi dan keinginan para investor juga harus kita pikirkan.

Walaupun terdengar menyeramkan bukan berarti membangun sebuah startup secara part-time di awal itu hal yang nggak mungkin untuk dilakukan. Gimana, sih, caranya?

Sumber: https://www.pexels.com/photo/person-holding-marker-1181537/

Jadi Idealis tapi Juga Realistis

Sebelum kamu berkomitmen untuk bangun startup sebaiknya kamu mulai mikirin ide dan masalah yang bisa kamu angkat untuk kamu bangun jadi sebuah startup. Tapi kamu masih belum mau lepas dari kerjaan full-time, itu masalahnya. Mau nggak mau kamu juga harus temui ide yang mudah untuk kamu kerjain sesuai dengan kapasitasmu sebagai part-timer.

Punya ide brilian itu oke banget. Tapi realistis juga biar kamu nggak kesulitan ke depannya. Bukannya sukses walau part-time, eh, malah gagal karena no-time.

Cari Co-Founder dan Supporter

Mengerjakan startup secara part-time sendirian itu sudah pasti bakalan menguras kepala banget. Untuk membuat semuanya lebih efisien, at least, cari rekan yang bisa kalian ajak untuk kerja sama sebagai co-founder dari bisnis kalian ini.

Bingung cara cari co-founder yang pas untuk kamu? Baca cara untuk menemukan co-founder yang tepat!

Fungsinya nggak cuma sebagai “kepala” di startup-mu saja, tapi juga yang bantu kamu untuk cover bagian yang sulit kamu sentuh. Co-founder pun juga akan bantu kamu untuk keep on track proses startup-mu.

Selain itu, supporter setia pun juga sangat dibutuhkan. Bisa sebagai beta-tester setiap produkmu sekaligus cheerleaders yang selalu tertarik dan excited ikutin perkembangan startup-mu juga bakalan bikin kita semangat selama ngerjain startup.

Pasang Schedule Pasti

Memang kewajiban utama dan porsi setiap harimu pasti lebih banyak untuk daytime job-mu. Ini yang banyak membuat part-time founder/co-founders sering kewalahan untuk hadapi in day to day basis. Maunya kerjain startup tapi deadline kerjaan yang numpuk juga nggak kalah bikin ribet. But it’s okay. Bisa diatur dengan time management yang jelas.

Pilih satu atau dua hari per minggu untuk kamu bisa fokus kerja untuk startup-mu bersama co-founders yang lain. Ya bukan berarti di hari lain kamu nggak kerjain, tapi paling nggak ada hari di mana kamu bisa punya waktu luang yang bisa kamu dedikasiin buat urus startup. Sudah pasti kerjaanmu akan lebih stabil dan maksimal walau sebagai part-time founder/co-founders.

Be Ready

Di atas sudah disebutin kalau membangun startup itu proses yang super panjang. Sebagai seorang part-time founder/co-founders ini bakalan jadi perjalanan yang melelahkan dan, maybe, penuh drama. Tahap awal mungkin bakalan nggak sesuai ekspektasi, but it’s okay. Persiapkan diri lebih matang lagi. Jaga emosi.

Jangan. Berhenti. Belajar.

Kamu boleh sibuk ngerjain daytime job-mu dan startup-mu menjadi yang nomor dua untuk sementara. Tapi bukan berarti apa yang kamu punya udah cukup untuk bangun startup-mu. Di luar sana banyak usaha-usaha atau startup yang punya ide yang sama, masalah yang sama, hingga produk yang hampir sama dengan punyamu. Parahnya lagi, bisa saja mereka bekerja secara full-time, nggak seperti kamu.

Walau mungkin bakalan ketinggalan jauh karena masalah jam terbang, bukan berarti startup-mu juga boleh dibuat makin ketinggalan, dan jangan memaklumi itu. Selama meniti karir startup-mu, jangan pernah berhenti untuk belajar hal-hal baru yang bisa menunjang pengembangan startup-mu jadi lebih mumpuni dari yang lain. Gunakan waktu selagi part-timing untuk ikut pelatihan, workshop, atau paling nggak belajar online skill yang kamu butuhin. Di internet banyaaaaak!

Bukan buat work your startup faster, tapi buat work your startup smarter.

Pastikan Kamu Pemilik Startup-mu

Nah ini kasus yang mungkin sering terjadi buat para founder/co-founders yang bekerja secara part-time sedangkan co-founders lain semuanya full-time. Suatu ketika saat kamu baru aja pulang dari kerjaan daytime-mu dan kedapatan kalo startup-mu diambil alih oleh co-founders-mu. Nggak menyenangkan banget, kan? Tapi ini mungkin saja terjadi, lho. Kok bisa?

Sebagai seorang founder yang bekerja secara part-time mungkin rasanya nggak adil untuk para co-founders yang lain karena mereka bekerja secara full-time. Tentu saja ada kesenjangan proporsi pekerjaan yang timpang. Para co-founders yang merasa mereka lebih banyak menghabiskan waktu dan tenaga mereka untuk startup yang sudah sama-sama kalian kerjakan pasti akan merasa startup ini milik mereka karena hal tersebut. 

Nah sebelum drama ini muncul, ada baiknya dari awal sudah membuat kesepakatan dan kontrak siapa pemilik startup tersebut. Your IP is your own. Tapi selain itu, kamu juga harus pasang target untuk para part-time co-founders termasuk kamu kapan untuk terjun full-time sepenuhnya biar semua adil porsi kerjanya.

Sumber: https://www.pexels.com/photo/analytics-blur-business-close-up-590045/

Setelah penjelasan panjang lebar kiat-kiat bekerja secara part-time, sebaiknya kapan, sih, kamu boleh terjun menjadi seorang full-timer untuk startup-mu? Mari kita checklist!

  1. Ide yang kamu temukan untuk startup-mu adalah ide yang bisa berkembang hingga 5-10 tahun ke depan atau lebih. Ide dan startup nggak muncul dan bekerja dalam waktu semalam doang. Prosesnya akan super panjang dan melelahkan. Idemu haruslah ide yang akan terus berkembang juga. Kalau idemu cuma ide yang sekali jalan kelar, kamu akan kesulitan untuk maju dan malah merugi. Checked!
  2. Pastikan pendapatan startup-mu sudah berjalan dengan baik dan stabil dalam waktu 3 tahun atau lebih ke depan. Pendapatanmu mungkin akan jauh lebih sedikit daripada pekerjaanmu sebelumnya. Jadi pastikan kamu punya uang yang cukup. Uangmu juga pasti akan keluar untuk mengembangkan startup-mu dan gaji timmu. Jadi siapkan dengan matang-matang. Checked!
  3. Punya perencanaan bisnis yang matang. Apakah produk startup-mu sudah capai product market fit? Apakah kamu sudah mempersiapkan marketing dari produkmu? Pastikan semuanya sudah berjalan dengan baik dan tepat, baru mulailah untuk pindah dari part-time ke full-time. Checked! Bingo!

Jadi part-time founder/co-founders startup memang nggak gampang. Asalkan kamu disiplin, tekun, dan selalu kreatif, startup-mu pasti bakalan nyusul Elon Musk ke Planet Mars. Atau galaksi lain mungkin. So, get moving!