Oleh Adhitya Putra

Kamu pengen startup-mu nanti jadi gimana di masa depan?

“Jadi startup terbaik di Indonesia!”

“2020 jadi Unicorn, dong!”

Ada yang nggak pengen memangnya? Tapi gimana caranya, sih, biar bisa sampai di mimpi itu?

Banyak startup di dunia yang punya goal super ambisius dan idealis. Beragam rencana, strategi, atau goals sudah diciptain untuk dapetin apa yang inginnya diraih. But in the end, ambisinya yang buat startup itu, ya, runtuh. Ambisi cuma sekedar ambisi.

Jadi apa sebaiknya nggak perlu punya ambisi yang serius? Yang santai-santai aja? Yang aman? Sesuai zona nyaman?

Siapa bilang harus main santai?

Ambisi yang serius itu dibutuhin banget biar tetap semangat untuk ngembangin startup dan sekaligus jadi alasan kenapa startup-mu harus ada. Tapi yang membuat ambisi tersebut malah jadi pisau bilah dua adalah saat ambisi yang menggebu-gebu tadi nggak bisa diukur sama sekali untuk bisa direalisasiin. Alih-alih ambisinya bawa startup-mu berlayar lebih jauh, malahan bikin startup-mu terapung tanpa arah mau ke mana.


Sebelum startup jadi sebuah tren di kalangan masyarakat modern sekarang, banyak perusahaan-perusahaan kecil ataupun besar yang kesulitan untuk tetap maju dengan goal yang udah disiapin. Sampai suatu ketika muncul sebuah istilah namanya OKR.

OKR, sebuah konsep yang dibuat oleh seorang Google investor bernama John Doerr untuk memberikan tolak ukur keberhasilan suatu goal yang sudah dibuat. Konsep itu diciptakan untuk membuat goal yang ambisius, challenging, namun dengan hasil keberhasilan goal tersebut bisa kita ukur. Jadi kita tahu apakah goal tersebut tercapai tanpa harus mengira-ngira.

Jadi apa, sih, OKR?

Objective & Key Results

OKR adalah singkatan untuk Objective and Key Results. Objective adalah apa yang ingin kamu raih di startup-mu, selayaknya goal. Sedangkan Key Results adalah tolak ukur untuk mengetahui objective-nya sudah terpenuhi atau belum.

Jadi gimana cara buatnya? Sebentar, sebelum itu mari tahu lebih lanjut tentang objective dan juga key result.

Objective

Objective adalah apa yang mau kita raih di startup kita. Nah dalam membuat objective boleh-boleh aja kok ambisius, tapi juga sebaiknya simpel dan mudah dipahami. Dalam hal ini, apa yang ingin kamu raih adalah hal yang konkrit, jelas, waktu untuk tercapainya ditentukan, berorientasi pada action, dan tentu aja bisa menginspirasi kamu setiap ingat tentang goal-nya.

Objective juga pastinya harus bisa bantu membuat startup-mu berkembang dan maju ke tahap-tahap selanjutnya.

Key Result (KR)

Key Result bisa disebut sebagai tolak ukur yang bisa kita pakai untuk tahu apakah objective yang kita buat terpenuhi atau tidak. Kalau Objective sifatnya ambisius dan kualitatif, key result lebih ke kuantitatif, spesifik. Key result sangat erat kaitannya dengan angka dan persentase. Biasanya satu objective punya tiga atau lima key results.

Selain itu, key result juga berpatokan pada waktu. Jadi keberhasilan dari objective akan dilihat dari seberapa key result sudah tercapai dalam rentan waktu yang sudah ditentukan. Makanya key result juga sebaiknya bisa diukur dan diverifikasi. Nantinya key result akan dievaluasi secara reguler untuk tahu tercapai atau tidaknya. Biasanya bisa monthly atau setiap quarter per tahun.

OKR Bikin Gampang Tapi Harus Susah

Walaupun objective dan key result dibuat sebagai tolak ukur, keduanya nggak boleh gampang. Kok gitu?

Objective dan key result sebaiknya dibuat agar sulit untuk dicapai. Aneh? Not really. Dengan buat OKR jadi sulit, timmu akan memberikan usaha dan perhatian lebih, plus meningkatkan kreatifitas yang lebih pula untuk raih objective yang sudah ditentukan.

Tapi walaupun begitu, objective dan key result jangan sampai dibuat terlalu sulit atau mustahil untuk diraih. Ibaratnya kayak main game; kalau terlalu gampang, kita gampang bosen dan gampang berhenti juga; kalau terlalu sulit kita juga jadi ogah buat lanjutin karena PERCUMA: melelahkan, bikin timmu patah semangat, dan PERCUMA.

Terus gimana kalau ternyata yang kita buat malah gampang diraih? Tingkatkan kesulitan OKR selanjutnya. Selalu seperti itu.

Mari Membuat OKR

OKR bisa dipakai oleh siapa saja yang ada di startup, nggak cuma para founder/co-founders aja. Masing-masing individu yang bekerja di startup juga boleh menggunakannya dan sangat disarankan untuk buat OKR mereka masing-masing. Jadi, OKR bisa dalam bentuk OKR untuk startup, OKR untuk tim atau divisi yang ada di startup, hingga OKR untuk individu. 

Walaupun setiap masing-masing individu di startup-mu nantinya membuat OKR-nya sendiri, masing-masing OKR itu juga haruslah bisa menunjang keberhasilan OKR startup satu sama lain. Pada dasarnya, OKR bekerja secara bottom-up. Dari bawah ke atas. Just like a pyramid. Keberhasilan OKR utama bakalan berpengaruh banget di keberhasilan OKR tim; lalu OKR tim dipengaruhi oleh OKR individu di tim itu. Just like a pyramid.

Tapi untuk pertama, mari kita buat dulu OKR untuk startup-mu untuk mendapat gambaran besar dari apa goal yang ingin kamu capai secara keseluruhan. Tentukan objective-nya terlebih dahulu.

Biasanya OKR awal dibuat oleh founder atau co-founders karena mereka yang lebih tahu ke mana arah startup ini nantinya. Bayangkan kalau startup-mu adalah sebuah startup yang bergerak di bidang agrikultur. OKR-nya akan kurang lebih seperti ini:

OKR Startup

Objective: Menjadi market leader distribusi hasil perkebunan online di Indonesia

Key results: 1. Memiliki nilai valuasi 150.000.000 Dollar.

2. Tampil di 5 majalah bisnis terkenal di Indonesia dan atau luar negeri

3. Masuk top 3 startup yang bergerak di bidang agrikultur di Indonesia

4. Mendapat gelar “Editor’s Choice” di Google Play Store

Dari OKR yang sudah ditentukan sebagai goal utama di startup-mu, semua tim yang ada pun juga ikut ambil bagian di OKR tersebut dengan membuat OKR untuk tim mereka sendiri. Nantinya OKR yang dibuat akan menunjang kesuksesan OKR yang dimiliki oleh startup Contohnya:

OKR Tim

Objective: Revenue startup meningkat

Key results: 1. 50.000 produk berhasil terjual

2. Kontrak kerjasama dengan 130 kelompok tani baru

3. Adakan 4 kampanye pemasaran produk secara nasional

dan

OKR Individu

Objective: Produksi meningkat 10% pada Q3

Key Results: 1. Mempersiapkan 10 set mesin produksi

2. Membuat sistem produk yang lebih simpel

3. Membuat 3 pelatihan skill untuk kelompok tani

Nah itu tadi adalah contoh gimana cara OKR bekerja. Indikator hasil (KR) akan selalu di-update setiap sebulan atau setiap seperempat tahun. Objective-nya bisa dikatakan berhasil jika 70% hingga 75% dari KR berhasil dicapai.

Lho, kenapa nggak 100% aja?

Nah, ini yang tadi disebutkan kalau OKR itu harus dibuat sulit. Jika persentase keberhasilan objective-nya malah menyentuh 100%, itu artinya objective yang dibuat kurang ambisius. Gampang diraih bukan berarti kamu expert, tapi kurang menantang aja. Nah jika ini terjadi, ayo review OKR-mu lagi.

OKR memberikan benefit yang amat sangat keren untuk startup yang sedang merintis dan merasa punya ambisi besar. Banyak perusahaan besar seperti Google, LinkedIn, dan Twitter yang pakai OKR untuk meningkatkan kualitas perusahaan mereka.

Melalui OKR, nggak akan ada yang namanya kerja sendiri-sendiri karena siapapun bisa lihat goal dan performa kinerja masing-masing nantinya; karena OKR itu sifatnya transparan untuk semua anggota. Dan melalui OKR, kamu sudah siap menantang dirimu sendiri untuk jadi lebih besar ke depannya.

So, ready to be the next Unicorn di Indonesia selanjutnya? Pakai OKR dari sekarang.