Sejak kecil saya diajarkan dan ditanamkan konsep bahwa sebagai seorang Cina, saya ini hanyalah “numpang” di negeri ini. Sebuah konsep yang membuat saya selalu berpikir untuk survive setiap saat. Namanya numpang, ya harus tahu diri karena bisa diusir tiap saat.

Saat memasuki usia SMA, saya mulai mempertanyakan konsep “numpang” tersebut. Saya bingung dan ingin mencari jawaban mengapa orang tua saya berpikir bahwa Cina hanyalah kaum yang menumpang di negeri ini. Namun daripada terus mencari jawaban untuk sesuatu yang kompleks, saya mulai berpikir tentang mengubah persepsi ataupun stereotipe Cina yang menumpang itu.

Berangkat dari kacamata orang yang menumpang, saya bisa melihat Indonesia dari “luar kotaknya”. Saya tidak terlahir dari keluarga yang diwarisi tanah luas berhektar-hektar. Saya tidak memiliki orang tua berpangkat tinggi di pemerintahan. Saya bahkan tidak mengerti kenapa waktu itu saya tidak boleh bersekolah di SD, SMP, SMA Negeri.

Segala keterbatasan yang saya miliki ternyata menjadi sumber kekuatan yang bisa saya manfaatkan sebagai keuntungan. Sebuah pola pikir untuk selalu mencari solusi mulai terbentuk. Tidak bisa menerima konsep “numpang” menjadikan saya melakukan banyak hal agar bisa “diterima”. Saya makin menjadi aktif dan suka beraktifitas, khususnya yang bertujuan menunjukkan ke orang lain bahwa saya bukan hanya sekedar Cina yang menumpang di negeri ini.

Petualangan hidup inilah yang mendorong saya selalu mengamati hingga akhirnya menyadari betapa besarnya potensi Indonesia. Keterbatasan di hampir segala lini kehidupan serta keinginan untuk mengubah hidup inilah yang membuat saya ingin mengambil kesempatan untuk memberdayakan potensi yang ada. Menghidupi potensi.

Namun setelah 70 tahun merdeka, hari ini kita masih bangga berbicara tentang potensi. Apa sih yang dibanggakan? Apa sih hebatnya potensi? Kenapa sih media harus terus menerus menggaungkan potensi 250 juta penduduk Republik ini? Mengapa masih ada pemimpin publik terus meninabobokan rakyatnya dengan kedigdayaan semu?

Saya muak. Saya merasa hina dengan kebanggaan akan potensi yang hanya menjadi pasar bagi bangsa lain. Saya malu tiap kali mendengar ada pejabat yang menggelorakan potensi anak muda dengan berbagai jargon penyemangat tanpa aksi nyata. Potensi tanpa aksi adalah impotensi. Pemuda tanpa karya itu mandul!

Di saat semua mata negara lain tertuju dan mengintai semua kekayaan Indonesia, banyak dari kita membiarkan, tidak peduli, bahkan membantu membukakan pintu selebar-lebarnya bagi kaum asing merampok dan menghabiskan masa depan kita. Tidak lupa mereka terus menghembuskan pesan akan POTENSI BESAR yang selamanya hanya akan menjadi potensi belaka. Jangan kaget bila suatu hari akan ada peringatan Hari Kemandulan Nasional, disingkat Hardulnas.

Berkarya menjadi tabu dan dosa. Bermimpi besar menjadi cemoohan. Bertanya harus disesatkan. Mempertanyakan akan dibungkam. Mau sampai kapan jadi mandul?

Indonesia yang saya bayangkan adalah sebuah negara besar yang dihormati karena penuh dengan talenta serta karyanya yang bermanfaat. Indonesia yang saya mimpikan adalah sebuah bangsa yang disegani dengan prestasi mengubah peradaban dunia jadi lebih baik. Indonesia yang saya cita-citakan adalah kemasyuran berkat aksi nyata dari para pemimpin yang menghentikan pembodohan massal.

Bergerak dan terus bergerak. Berkarya dan menghasilkan karya. Berkontribusi dengan memberi solusi. Mendobrak untuk membuka jalan. Hanya itu harapan satu-satunya bagi kalian yang punya impian yang sama seperti tertuang di lirik Indonesia Raya. Jangan hanya nyanyi, apalagi hanya menghafal lirik tanpa mengerti makna. Indonesia bukan potensi, peluang dan talenta. Indonesia adalah karya.


Artikel ini ditulis oleh Yansen Kamto yang sebelumnya diterbitkan di Ziliun.com

Show Buttons
Hide Buttons